Project Management Institut (PMI) resmi mengumumkan pengunduran jadwal ujian sertifikasi PMP. Sebelumnya, jadwal ujian ini diumumkan jatuh pada 1 Juli lalu. Namun, dikarenakan situasi pandemi COVID-19 yang tidak menentu saat ini, PMI akhirnya memutuskan untuk mengundurnya hingga 2 Januari 2021 mendatang.

Melansir dari laman resmi mereka, PMI.org, alasan pengunduran jadwal ujian ini adalah untuk memberikan para pesertanya perpanjangan waktu untuk melengkapi persyaratan untuk mengikuti ujian PMP ini.

Stakeholders began sharing feedback immediately and the consensus has been they feel they need more time to prepare (Para stakeholder mulai membagikan pendapat mereka dan konsensusnya adalah mereka ternyata perlu lebih banyak waktu untuk mempersiapkannya),” tulisnya.

Lalu, apa saja ya hal-hal yang berubah setelah pengunduran jadwal ujian PMP ini?

sertifikasi project manager

5 Hal Penting Dalam Ujian PMP 2021

 

Bukan hanya terkait tanggal, pengunduran jadwal ujian PMP ini ternyata juga membuat beberapa elemen di dalamnya ikut berubah. Mulai dari ruang lingkup, kualifikasi, hingga teknis pengerjaan ujiannya.

1. Ruang Lingkup Ujian

Berbeda dengan sebelumnya, ujian PMP 2021 nanti aka didasarkan pada 3 unsur: People, Process, dan Business Environment. Di mana, pada ujian PMP sebelumnya, mereka mendasarinya pada unsur: Initiating, Planning, Executing, Monitoring and Controlling, dan Closing. Untuk bobotnya sendiri, unsur People sebesar 42%, Process sebesar 50%, dan Business Environment sebesar 8%.

2. Pertanyaan Ujian untuk Agile and Hybrid

Hal penting dalam ujian PMP 2021 adalah 50% pertanyaan di dalamya akan berasal dari metodologi Agile dan Hybrid. Meskipun begitu, tidak ada pernyataan resmi tentang persentase untuk bobot kedua materi ini pada ujian PMP 2021 nanti.

3. Hadirnya Courseware Resmi untuk Ujian PMP

Memang, sejak dimulai pada 1894, PMP tidak pernah merilis dokumen resmi sebagai sumber utama pembelajaran ujian untuk para pesertanya. Hasilnya, buku Project Management Body of Knowledge (PMBOK) menjadi dokumen fundamental yang hampir seluruh peserta gunakan untuk mempersiapkan diri mengikuti sertifikasi PMP ini.

Barulah pada 2020, PMI resmi meluncurkan situs kursus resmi sebagai media pelatihan sertifikasi PMP. Bukan hanya berfungsi sebagai konten persiapan resmi sertifikasi PMP, situs resmi ini juga memuat garis besar konten yang akan diujikan dalam PMP 2021 nanti. Hal ini menjadi angin segara bagi para peserta karena tentu saja memecah kekhawatiran mereka terkait sumber dokumen resmi PMP yang terbatas.

4. Program Penyedia Pelatihan Resmi (ATP)

Ada perubahan yang signifikan untuk kandidat yang ingin mengambil kursus mandiri untuk belajar dan mencoba simulasi ujian PMP. Kini, PMI telah mengumumkan bahwa mereka menyediakan Program Penyedia Pelatihan Resmi (ATP) yang akan menjadi satu-satunya penyedia untuk kursus mandiri dan pelatihan yang dipimpin instruktur ATP.

Dihargai $699 atau sekitar Rp10 juta (kurs: 14.194,20), tampaknya ini adalah langkah yang jelas dari pihak PMI untuk mendorong peserta mereka mengikuti pelatihan yang dipimpin instruktur yang juga disiapkan dari pihaknya dengan harga yang lebih hemat.

5. Logistik

Hal ini juga menjadi unsur yang berubah secara signifikan pada ujian PMP 2021 nanti. Ya, mengingat situasi di tengah panemi, PMI dikabarkan mempermudah dan memangkas waktu pengaplikasian dokumen untuk sertifikasi mereka. Selain itu, PMI juga telah memutuskan untuk mengizinkan ujian PMP secara online namun tetap dengan pengawasan ketat.

Apa anda salah satu yang berencana mengikuti ujian sertifikasi PMP ini? Jangan lupa untuk terus memperbaharui informasinya lewat laman resmi PMI di https://www.pmi.org.

 

Ketahui lebih banyak wawasan tentang manajemen proyek di sini bersama Tomps.id!